5 Past Amazing Year
Bagi saya, hidup tak
henti-henti nya memberikan pelajaran, tak henti-henti memberi warna disetiap
diri manusia. Seperti apa yang saya rasakan dalam 5 tahun belakangan ini,
penuh makna hingga segudang pelajaran yang bisa diambil untuk hidup lebih baik
di kemudian hari.
Tepat 5
tahun yang lalu, saya masih berada di sekolah menengah pertama. Saat itu saya
belum tahu akan bagaimanakah hidup saya kedepannya, semua yang diimpikan hanya
sekedar angan-angan tanpa tahu cara merealisasikan. Seiring berjalannya waktu,
saya mulai menyadari pentingnya membuat planning
terhadap kehidupan. Saya membuat bagan berisi hal-hal yang mau saya capai sejak
hari itu sampai dengan akhir hidup saya. Terdengar berlebihan, tetapi mendesain
mimpi sesuai dan seindah mau mu itu menyenangkan bukan? Goals pertama yang saya
tulis dibagan itu adalah untuk bisa masuk ke SMA favorit nomor satu di kota
tercinta, Kota Jakarta Barat. Namun, dengan segala alasan baiknya, semesta
berkata lain. Saya hanya berhasil masuk SMA favorit nomor dua di kota saya.
Semua itu saya terima dengan lapang, berharap disana saya bisa lebih berkembang
dan berusaha melakukan yang terbaik. Di
SMA, saya cukup aktif bersosialisasi dengan teman-teman, banyak hal baru yang
saya coba lakukan. Hal-hal yang menurut saya positif tentunya. Salah satunya
adalah mengikuti seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, yang saat itu sedang
ramai diperbincangkan karena sudah mendekati hari kemerdekaan Indonesia.
Awalnya saya ragu karena menyadari bahwa saya kurang suka berkegiatan diluar
ruangan dan berlari-larian disiang bolong. Tapi, dengan alasan ingin keluar
dari zona nyaman, saya beranikan untuk mendaftarkan diri. Saya lolos sampai
tahap seleksi provinsi menuju nasional, saya gagal dan harus kembali ke tingkat
kota. Di awal saya sangat kecewa, karena merasa sudah melakukan yang terbaik
tetapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Tetapi, diakhir saya menyadari
bahwa ada lebih banyak hal yang saya dapat ambil dalam kejadian itu.
Lalu,
diakhir masa SMA saya bertekad untuk melanjutkan pendidikan di salah satu
universitas ternama di Yogyakarta. Impian yang sudah saya pikirkan 5 tahun
sebelum hari itu tiba. Saya lakukan apapun yang bisa memudahkan saya diterima
disana, belajar sampai malam, mengikuti bimbingan belajar full setiap hari
bahkan harus menginap di tempat bimbel karena tuntutan program disana. Semua usaha
saya nikmati dengan baik, saya anggap investasi untuk kesuksesan dikemudian
hari. Lagi-lagi, takdir berkata lain, saya gagal masuk ke universitas impian
saya itu. Semua jalur sudah saya tempuh, tapi tak kunjung juga terkabul angan-angan
yang saya susun. Tidak apa, masih banyak jalan menuju Roma. Saya tetap berusaha
masuk di perguruan tinggi lain, karena alasan tidak ingin memberatkan orang tua
saya kalau harus masuk universitas swasta. Di sore hari yang sunyi dan penuh
perasaan was-was karena belum mendapat kampus, sedang belajar mempersiapkan
ujian mandiri 2 hari lagi, sedang bersedih-sedih mengingat berapa banyak
penolakan yang sudah saya terima sampai saat itu, saya mendapat telfon dari
sahabat saya.. ternyata telfon itu berisi kabar yang tidak saya nanti-nanti kan
bahkan tidak saya harapkan karena rasanya sudah terlalu mustahil jika menaruh
harapan disana. Kabar itu berisi pengumuman saya di terima di Universitas
Brawijaya jurusan Administrasi Bisnis. Tangisnya pecah saat memberi tahu saya
kabar tersebut, sahabat saya tahu bagaimana saya berjuang untuk mendapatkan apa
yang saya impikan. Di hari itu saya percaya perkataan seorang tokoh,
“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu, selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuat mu terpana, hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit”.Tidak pernah terbayang sekalipun untuk pergi sejauh itu, Malang adalah kota paling jauh yang pernah saya kunjungi sejauh ini. Berangkat seorang diri, mengurus segalanya sendiri tanpa ditemani orang tua di hari pertama saya menginjakkan kaki di kota yang masih asing bagi saya saat itu.
Waktu berjalan,
semua saya lewati dengan penuh usaha untuk ikhlas ditempatkan di kota Malang. Banyak
sekali suka dan duka, pelajaran dan kejadian yang tak terlupakan. Di tahun
pertama saya kuliah, saya mengikuti beberapa organisasi. Salah satu yang saya
ikuti adalah AIESEC, organisasi internasional berbasis kepemimpinan yang
memberikan segudang pengalaman baru untuk saya. Di umur saya yang masih muda
dan dengan pengetahuan yang minim, saya diterima sebagai Staff Marketing
disalah satu departemen bagian Magang dimana kami harus mengirim pemuda
Indonesia untuk magang diluar negri dan mendapatkan banyak skills dari
pengalman tersebut. Saya belajar banyak hal, termasuk desain grafis, public
relation, bahkan bagaimana membuat suatu event untuk mempromosikan program
tersebut. Di tahun selanjutnya saya direkrut sebagai Staff Human Resources and
Quality Development, dimana saya harus menyeleksi orang yang ingin pergi
magang di sebuah perusahaan luar negri dan membantu mereka mengembangkan
potensinya untuk diterima diperusahaan tersebut. Saya sangat bersyukur dengan
apa yang saya dapatkan disini. Saya juga mengikuti himpunan mahasiswa jurusan
Administrasi Bisnis, dan dipercayakan menjadi sekretaris pelaksana sebuah
kegiatan Study Excursion yang pertama kalinya diadakan di Kuala Lumpur,
Malaysia.
Sampai hari
ini, hari dimana saya menulis semua ini, saya menyadari bahwa hidup punya
caranya sendiri dalam memperlihatkan keindahannya. Apa yang saya terima saat
ini, sudah lebih dari cukup dari apa yang saya rencanakan. Akan ada banyak hal
lagi yang harus saya tempuh, mungkin baik atau bahkan kurang baik. Yang terpenting
adalah tetap berjalan, dan berusaha melakukan yang terbaik.
“On the difficult days when the world’s on your shoulders, remember that diamonds are made under the weight of mountains.” – Beau Taplin
Komentar
Posting Komentar